Sunday, 10 January 2016

The Wolf of Wall Street


2013
Sutradara: Martin Scorsese
Pemain: Leonardo DiCaprio, Jonah Hill, Margot Robbie, Matthew McConaughey, Kyle Chandler, Rob Reiner, Jon Bernthal, dan Jon Favreau
Penulis: Terence Winter, berdasarkan buku The Wolf of Wall Street karya Jordan Belfort
Durasi: 179 Menit
Nilai: -A


The Wolf of Wall Street adalah sebuah komedi gelap tentang Amerika. Subjek utama komedi satir ini adalah segelintir elit yang dikenal sebagai the one percent, yakni para super-kaya Amerika yang menjalani kehidupan bagai tak ada hari esok. Mereka adalah segelintir kecil pialang Wall Street dan manajer bank investasi yang konon menguasai sebagian besar konsentrasi kemakmuran seluruh populasi negeri di dalam kantong pribadi mereka sendiri. Sebagai representasi para elit ini, Martin Scorsese menghadirkan kepada kita karakter Jordan Belfort (Leonardo DiCaprio).
Pada usia 22 tahun, Jordan Belfort bekerja sebagai seorang pialang saham pada L.F. Rothschild. Ketika perusahaan finansial itu bangkrut pada tahun 1987, Jordan pindah ke Long Island dan bekerja pada sebuah perusahaan kecil yang menjual saham gorengan (penny stocks). Di Long Island, ia berkenalan dengan Donnie Azoff (Jonah Hill) dan bersepakat untuk membangun perusahaan finansial mereka sendiri. Dibantu beberapa sahabat Jordan yang hampir kesemuanya adalah pengedar narkoba, keduanya kemudian meraih sukses: pendapatan mereka mencapai 49 juta dollar per tahun, dan para serigala Wall Street ini menjadi orang kaya baru yang paling menarik perhatian. Pertanyaannya: apakah kesuksesan tersebut diraih dengan cara-cara halal? Tentu saja tidak.
Praktek yang dilakukan perusahaan Jordan Belfort dkk. adalah teknik klasik pump-and-dump, yakni teknik menaikkan harga saham-saham butut berdasarkan rumor dan berita bohong, lalu menjual saham-saham tersebut ketika harga naik. Yang menjadi korban, tentu saja, adalah para investor. Tetapi tidak masalah, kata Tuan Belfort. Toh, uang para investor tersebut akan jauh lebih berguna berada di tangan Jordan dan kawan-kawan. Mereka lebih tahu bagaimana menghabiskan uang-uang itu secara lebih “berkelas”.
Pernyataan tersebut adalah sebuah satir. Tindakan “berkelas” bagi para serigala ini adalah menyewa pelacur tiap malam, menghirup kokain, menenggak quaaludes, mengadakan pesta orgy di kantor, dan segala bentuk kegilaan hedonistik lainnya. Bisa dibilang, Jordan Belfort adalah Caligula jaman modern. Perilaku hedonis orang-orang di dalam film ini benar-benar di luar kewajaran, sampai-sampai membuat kita sedikit ragu kalau film ini benar-benar diangkat dari sebuah kisah nyata.
Bagi Martin Scorsese sebagai sutradara, tema yang diangkat pada film ini bukanlah barang baru. Semenjak Mean Street (1973), Scorsese memang terkenal sebagai sutradara yang suka mengangkat tema the American dream dengan nada sinis dan muram. Bedanya, jika subjek cerita pada film-filmnya yang terdahulu memang dapat dikategorikan sebagai gangster, The Wolf of Wall Street adalah kisah tentang orang-orang biasa. Pada awal film diceritakan bahwa Jordan Belfort hanyalah seorang anak muda dengan watak family man dan pekerja keras. Semuanya mulai berubah ketika ia menyadari betapa mudah dan menyenangkan menjadi kaya raya melalui jalan pintas.
Di sinilah daya pikat utama film terbaru karya Scorsese ini. Kritik sosial yang dilayangkan film ini tidak diceritakan melalui penggambaran dunia gelap mafioso yang jauh dari realitas keseharian penonton. Scorsese tampaknya menyadari, pasca-krisis finansial tahun 2008, mimpi buruk kegagalan the American dream tidak hanya menghantui mereka yang dikategorikan sebagai kelompok marjinal (khususnya para imigran), tetapi juga menghantui mayoritas masyarakat Amerika kebanyakan. The 99 percent. Mereka inilah korban sesungguhnya dari ketamakan dan kerakusan serigala-serigala Wall Street seperti Jordan Belfort.
The Wolf of Wall Street memang bukan The Departed (2006), masterpiece Scorsese yang mendapat 4 piala Oscar itu. Film ini tidak memiliki plot dan relasi antar karakter yang terlalu kompleks. Tapi justru karena itu film ini sangat menghibur. Film ini didanai secara penuh oleh sebuah studio independen sehingga Scorsese tidak perlu bersusah payah “memperhalus” konten cerita dan joke-joke vulgar yang menjadi kekuatan film ini.
Banyaknya nama besar di dalam jajaran pemain menjadi daya tarik tersendiri. Leonardo DiCaprio, seperti biasa, tampil cemerlang. Piala Oscar untuk aktor terbaik adalah takdir Leonardo yang hanya tinggal menunggu waktu. Tetapi kejutan justru datang dari Matthew McConaughey dan Jonah Hill. Matthew McConaughey hanya tampil sekitar 10 menit, tapi adegan yang ia lakoni (adegan senandung sambil memukul-mukul dada itu) justru menjadi adegan paling tidak terlupakan sepanjang film. Sedangkan Jonah Hill secara kocak berhasil membawakan karakter Donnie Azoff yang degil dan menyebalkan. Masuk daftar nominasi untuk aktor pendukung terbaik pada Oscar tahun ini adalah apresiasi yang pantas bagi Jonah Hill.
The Wolf of Wall Street memang gagal besar di ajang Oscar. Dari 5 nominasi yang diberikan, tak ada satu pun piala yang diraih. Tetapi rasanya kegagalan tersebut lebih dikarenakan persaingan film-film di ajang Oscar 2014 sangat ketat (harus diakui 12 Year a Slave dan Gravity memiliki nilai produksi yang lebih tinggi). Namun secara keseluruhan, The Wolf of Wall Street tetap merupakan sebuah film yang sangat asyik untuk ditonton.

Tuesday, 30 December 2014

Exodus: Gods and Kings

2014

20th Century Fox

Genre: Action, adventure, drama

Sutradara: Ridley Scott

Produser: Peter Chernin, Ridley Scott, Jenno Topping, Michael Schaefer, Mark Huffam

Pemain: Christian Bale, Joel Edgerton, Ben Kingsley, Aaron Paul, Sigourney Weaver, John Turturro, Maria Valverde

Penulis: Adam Cooper, Bill Collage, Jeffrey Caine, Steven Zaillian

Sinematografer : Dariusz Wolski

Musik: Alberto Iglesias

Durasi: 150 menit

MPAA Rating: PG-13

Nilai: B+

Kita mengenal kisah Nabi Musa sebagai salah satu kisah paling kolosal di dalam Kitab Perjanjian Lama. Kita juga mengenal Ridley Scott sebagai sutradara film-film kolosal seperti Gladiator, Robin Hood, dan Kingdom of Heaven. Lalu apa jadinya jika Ridley Scott menyutradarai film yang diangkat dari kisah Nabi Musa? Seharusnya kita mendapat tontonan yang maha kolosal. Kolosal kuadrat.

Dalam beberapa hal, khususnya efek visual dan setting, Exodus: Gods and Kings memang berhasil mempersembahkan tontonan yang dahsyat dan megah. Adegan klimaks di Laut Merah, misalnya, akan membuat anda terpana. Efek visual yang menggambarkan hukuman Tuhan kepada rakyat mesir juga cukup efektif membuat penonton ketakutan. Namun sayang Ridley Scott gagal memanfaatkan kemewahan efek visual dan dana produksi yang besar untuk menyajikan film yang layak untuk diingat.

Kisahnya kita semua sudah tahu: seorang anak keturunan Yahudi dibesarkan di dalam kerajaan Mesir dan bersahabat dekat dengan sang putra mahkota Firaun. Ketika identitas asli sang anak akhirnya terkuak, ia diasingkan, mendapatkan wahyu, dan bertekad membebaskan rakyatnya yang ditindas sebagai budak oleh bangsa Mesir.

Kita semua paham tantangan berat yang dihadapi Ridley Scott: kisah Nabi Musa sudah sangat familiar di dalam benak milyaran orang di muka bumi, dan telah divisualisasikan pula ke dalam film beberapa kali. Maka saya datang ke bioskop dengan rasa penasaran yang membuncah: “hal baru apa yang ditawarkan Ridley Scott, salah satu sutradara kesukaan saya, ke dalam kisah klasik ini?” Hingga akhirnya film selesai, saya tetap membatinkan pertanyaan tersebut tanpa mendapatkan jawaban yang memadai.

Banyak orang bilang film ini menawarkan interpretasi kisah Nabi Musa yang lebih rasional dan masuk akal. Oke, perlu saya akui upaya menginterpretasi mukjizat terbelahnya Laut Merah sebagai fenomena alam biasa (tsunami) adalah ide yang menarik. Begitu pula upaya penulis skenario menjadikan sosok Musa lebih sebagai pemimpin revolusi politik dan teroris ketimbang sebagai nabi sebagai upaya yang patut diacungi jempol.

Tetapi, menurut hemat saya, justru di situlah letak kelemahan terbesar Exodus. Kisah Nabi Musa menjadi kisah yang paling diingat orang karena di sinilah mukjizat Tuhan muncul paling banyak. Kisah Nabi Musa adalah penegas: Tuhan bangsa Israel adalah Tuhan yang maha kuasa, yang tidak akan ragu menghukum orang-orang yang menyekutukan diri-Nya dan menyakiti umat pilihan-Nya. Exodus mengaburkan itu semua dan justru menghadirkan pertanyaan pelik tentang kelayakan Tuhan semacam itu untuk disembah. Musa sendiri digambarkan sebagai sosok yang skeptis dan sering mendebat keputusan-keputusan Tuhan.

Pada akhirnya film ini menjadi serba tanggung. Awalnya terasa ada upaya menjadikan Exodus sebagai pembacaan ulang kisah Musa dalam perspektif epik-historis. Tetapi pada akhirya film ini terjatuh kembali sebagai kisah mitos-biblikal yang penuh mukjizat kenabian. Secara umum, saya tidak bisa menerka apa yang ingin dicapai Ridley Scott lewat Exodus.

Soal pembagian peran juga agak bermasalah. Ridley Scott banyak sekali menyia-nyiakan nama besar di jajaran casting Exodus. Ben Kingsley, Sigourney Weaver, dan pendatang baru Aaron Paul (pemeran Jesse Pinkman dalam serial Breaking Bad) hanya sedikit sekali mendapatkan jatah penampilan yang memadai. Sayangnya, kedua aktor yang paling mendapat tempat, Christian Bale sebagai Moses dan Joel Edgerton sebagai Raja Ramses, juga memberikan penampilan yang tidak memorable. Bale memang satu-satunya bintang yang paling bersinar, tetapi penampilannya sebagai Moses tampak seperti rehash dari peran-peran yang ia lakoni sebelum Exodus. Sedangkan Edgerton sendiri tidak mendapat ruang eksplorasi yang maksimal untuk perannya sebagai Firaun yang lalim.  Di Amerika sendiri pemilihan casting Exodus menimbulkan kontroversi rasisme terkait minimnya aktor berkulit gelap untuk sebuah cerita yang bersetting di Afrika.

Tetapi, seperti saya bilang tadi, film ini memiliki efek visual yang megah. Ridley Scott bersama sinematografer Dariusz Wolski berhasil menyuguhkan visualisasi yang keren untuk adegan-adegan ikonik seperti terbelahnya Laut Merah, sepuluh wabah, dan adegan penyerangan tentara Mesir terhadap suku Hittite. Bahkan bisa dibilang pace film ini terasa sangat lamban sebelum akhirnya penonton disuguhkan pada adegan-adegan yang membutuhkan kecanggihan efek visual.


Pada akhirnya kita hanya dapat melihat film ini sebagai versi modern dari film-film Musa yang pernah ada sebelumnya, terutama The Ten Commandments (Cecil B. DeMille, 1956). Namun Exodus sama sekali belum dapat melewati The Ten Commandments sebagai referensi sinematik utama bagi kisah Nabi Musa. Saya tidak tahu apakah Ridley Scott memang berniat menggeser posisi Commandments lewat Exodus, namun satu hal yang saya tahu pasti: jika ingin menonton kembali kisah Nabi Musa, saya akan berkali-kali memprioritaskan Commandments ketimbang Exodus

Thursday, 30 June 2011

Ed Wood

1994

Touchstone Pictures

Genre: Drama

Sutradara: Tim Burton

Pemain: Johnny Depp, Sarah Jessica-Parker, Martin Landau, Patricia Arquette, Lisa Marie Smith, Jeffrey Jones, Bill Murray

Penulis: Scott Alexander & Larry Karaszewski

Sinematografer: Stefan Czapsky

Musik: Howard Shore

Durasi: 127 menit

MPAA Rating: Rated R for some strong language

Nilai: A


Sudah sewajarnya jika sebuah film biografi menceritakan riwayat hidup orang-orang hebat di bidangnya. Sudah menjadi naluri penonton untuk ingin serba-tahu sejarah hidup orang-orang sukses. Nah, film Ed Wood garapan sutradara Tim Burton ini dengan berani melawan pakem semacam itu. Ed Wood bercerita tentang kisah hidup Edward Davis Wood, Jr., seseorang yang pada tahun 1980 dianugerahkan Golden Turkey Award sebagai sutradara paling buruk dalam sejarah.

Sebagai sebuah biopic, Ed Wood sebetulnya tidak banyak menceritakan riwayat hidup subjeknya. Film ini bahkan dimulai ketika Ed Wood sudah berumur 30 tahun dan telah menganggap dirinya sebagai penulis dan sutradara film. Tampak jelas bagi Tim Burton sejarah hidup Ed Wood bukanlah hal yang penting. Burton lebih asyik berkutat dengan bagaimana proses “kerja kreatif” Ed Wood dalam menghasilkan karya-karyanya. Maka sepanjang film kita akan menyaksikan bagaimana seorang Ed Wood jatuh bangun mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penulis dan sutradara terkenal, yang terkadang bisa lucu, absurd, sekaligus mengharukan.

Film ini saya anggap penting karena beberapa hal. Pertama, ini adalah sebuah film yang membicarakan “American dream” dari perspektif yang unik. Film ini seolah-olah mengejek omong kosong yang sering ditawarkan film-film Hollywood pada umumnya: “teruslah berusaha mewujudkan mimpi karena akhir yang bahagia menanti anda di ujung cerita”. Astaga! Bukankah itu adalah sebuah kebohongan yang mengerikan? Meskipun bisa kocak, film ini sebetulnya bersifat tragis. Apa yang lebih menyedihkan dari kisah seseorang yang tulus dan pekerja keras namun hanya menderita kegagalan demi kegagalan sepanjang hidupnya? Alasan lain film ini saya anggap penting adalah karena ia merefleksikan ketakutan-ketakutan kita yang paling dalam atas absurditas dan sifat tragis kehidupan.

Sayangnya, saya sama sekali tidak bisa menangkap nada dasar film ini. Saya tidak tahu apakah film ini cenderung mengolok-olok Ed Wood atau justru bersimpati padanya. Pada beberapa adegan kita bisa terbahak melihat betapa tidak kompetennya Ed Wood sebagai seorang sutradara. Adegan ketika Ed Wood melakukan tarian perut sambil dikelilingi teman-temannya bahkan menegaskan bahwa karakter-karakter dalam film ini adalah sekumpulam freak. Tapi pada adegan lain kita bisa melihat Ed Wood berbincang-bincang dalam posisi yang “setara” dengan sutradara legendaris Orson Welles. Saya merasa sikap netral yang diambil film ini membuat premis yang disampaikan kurang memiliki efek yang kuat.

Begitu pun film ini berhasil membuat saya termenung cukup lama. Dan jika anda termasuk penyuka film-film Tim Burton dan belum sempat menyaksikan Ed Wood, saya sarankan anda segera menontonnya. Di antara film-film Burton yang lain, film yang diangkat dari kisah nyata ini justru yang paling unik. Saya semakin percaya bahwa fakta, senyatanya, lebih aneh ketimbang fiksi. []

Tucker & Dale vs Evil

2010

Maple Pictures

Genre: Comedy-Horror

Sutradara: Eli Craig

Pemain: Tyler Labine, Alan Tudyk, Katrina Bowden, Jesse Moss, Chelan Simmons

Penulis: Eli Craig & Morgan Jurgenson

Sinematografer: David Geddes

Musik: Michael Sields & Andrew Kaiser

Durasi: 89 menit

MPAA Rating: Not Rated

Nilai: -A


Tucker & Dale vs Evil betul-betul sebuah film horror-comedy yang segar dan menghibur. Film ini berhasil membikin kekonyolan dari sebuah tipikal scenario yang tampaknya telah menjadi rumusan baku dalam produksi film bergenre slasher-thriller. Tak pernah rasanya saya begitu terbahak melihat adegan tubuh yang terpotong-potong selain dari skenario yang disajikan film ini. Ya, humornya mungkin agak sedikit kelam, namun sama sekali tidak bersifat psychotic. Semuanya murni komedi situasional.

Ceritanya pasti sudah akrab di benak para penggemar film horor. Perhatikan: sekelompok mahasiswa – pergi berlibur – pembunuh psikopat – mahasiswa mati satu per satu – satu/dua orang (biasanya yang paling ganteng/cantik) berhasil selamat. Bedanya dengan film horor biasa, Tucker & Dale vs Evil punya elemen tambahan: dua karakter menyedihkan bernama Tucker dan Dale. Dua orang anak gunung yang polos dan baik hati ini adalah distorsi paling lucu dalam sejarah film thriller.

Secara kebetulan mereka berdua juga sedang berlibur di lokasi yang sama dengan lokasi berlibur sekelompok mahasiswa. Kekacauan mulai terjadi ketika para mahasiswa tersebut mengira Tucker dan Dale menculik salah seorang di antara mereka, meski pada kenyataannya Tucker dan Dale justru sedang menolong mahasiswi tersebut.

Dengan penampilan seperti anggota keluarga The Hewitt, bukan hal yang aneh jika mahasiswa-mahasiswa berpikiran sempit tersebut mengira Tucker dan Dale sebagai sepasang maniac killers. Apa lagi kemudian, atas dasar ketidaksengajaan dan kebodohan mereka sendiri, mahasiswa-mahasiswa itu mulai mati satu per satu. Mulai dari sini situasinya akan semakin runyam dan, justru, membuat ceritanya menjadi semakin konyol. Dari segi skenario dan ide cerita, film ini jauh lebih unggul ketimbang film-film lain sejenis, misalnya Scary Movie.

Sayangnya ide cerita yang segar tersebut tidak di-finishing secara baik. Sang penulis skenario tampaknya tak mau mengambil resiko untuk tidak menjadi konvensional seratus persen. Pada satu titik film ini terjerumus juga pada tradisi cerita horor khas Amerika: pemunculan tokoh pembunuh psikopat sungguhan, meski alasan pemunculannya agak dipaksakan.

Akibatnya, semangat bermain-main yang menjadi keunggulan film ini justru menjadi hilang. Dengan memaksakan munculnya seorang tokoh “antagonis murni”, film komedi-horor ini pada akhirnya menjadi film horor betulan. Padahal, spirit ‘playfulness’ tersebutlah yang membuat kita betah menonton film ini sampai akhir. Apa boleh buat…

Saturday, 11 June 2011

The Blair Witch Project

1999

Artisan Entertainment

Genre: Horror

Sutradara: Daniel Myrick & Eduardo Sanchez

Pemain: Heather Donahue, Joshua Leonard, Michael C. Williams

Penulis: Daniel Myrick & Eduardo Sanchez

Sinematografer: Neal Fredericks

Musik: Antonio Cora

Durasi: 86 menit

MPAA Rating: Rated R for language

Nilai: -C


Ketika mereview Paranormal Activity, saya mengatakan bahwa seandainya film tersebut pertama di jenisnya, saya akan memberi penilaian lebih tinggi dari pada yang saat itu saya berikan. Kenyataannya, ketika menyaksikan The Blair Witch Project yang (konon) merupakan pelopor genre pseudo-dokumenter horror seperti Paranormal Activity, saya malah semakin membenci film-film jenis ini. The Blair Witch Project betul-betul membosankan, sampai-sampai membuat saya bolak-balik mengecek seek bar Media Player Classic saya seraya berharap filmnya segera berakhir.

The Blair Witch Project berkisah tentang pengalaman tiga orang anak muda yang menghilang di sebuah hutan angker ketika sedang membuat sebuah film dokumenter. Filmnya dituturkan melalui potongan-potongan adegan yang direkam melalui kamera yang dipegang oleh karakter utama. Di awal film kita diinformasikan bahwa kamera itu sendiri ditemukan di lokasi hilangnya ketiga anak muda tersebut. Maka semua scene di dalam film merupakan “dokumentasi” pengalaman ketiga anak muda tersebut diteror oleh entah apa di tengah hutan.

Melalui formula semacam itu, ada harapan di benak penonton bahwa mereka akan mengalami perasaan horror secara lebih intens. Sayangnya yang terjadi justru sebaliknya. Saya nyaris tidak mengalami keterlibatan emosi dengan cerita yang dibangun. Pikiran yang berseliweran dalam benak saya selama film berlangsung adalah: “ngapain sih gua nontonin orang yang sedang panik ketika tersesat di dalam hutan?”. Saya pikir ini masalahnya: keterlibatan emosi antara audiens dengan “teks” tak bisa semata-mata dibangun melalui pilihan sudut pandang penceritaan. Believe me, it takes more than that…

Dan rasa-rasanya saya tak perlu menyebut sudut pandang yang dipakai film ini sangat menganggu secara visual. Entah sudah berapa kali saya dengar kasus mengenai orang yang muntah-muntah ketika menonton film ini di bioskop. Saya pikir ini akan menjadi yang terakhir kalinya saya menonton film semacam ini.

Saturday, 4 June 2011

Gattaca

1997

Columbia Pictures

Genre: Drama, romance, thriller, sci-fi

Sutradara: Andrew Niccol

Pemain: Ethan Hawke, Jude Law, Uma Thurman, Gore Vidal

Penulis: Andrew Niccol

Sinematografer: Slawomir Idziak

Musik: Michael Nyman

Durasi: 106 menit

MPAA Rating: Rated PG-13 for brief violence image, language, and some sexuality

Nilai: A

Setidaknya ada dua cara yang sering muncul di dalam film untuk membicarakan wacana-wacana filsafat.* Cara yang pertama adalah dengan mengeksplisitkan tendensi filsafat di dalam film itu sendiri. Maksudnya, sejak awal film itu sendiri sudah memproklamirkan dirinya sebagai sebuah “film filsafat”. Kecenderungan itu bisa kita lihat, misalnya, dari tema yang diambil, dialog-dialog yang “sumir”, dan kutipan-kutipan filosofis yang bertebaran sepanjang film. Judul-judul yang masuk dalam kategori ini misalnya: I (Heart) Huckabees, Being John Malkovich, dan The Seventh Seal.

Cara yang kedua biasanya lebih halus. Isu filsafat yang diambil dikemas sedemikian rupa dalam sebuah cerita sehingga tidak terlihat terlalu menonjol. Film-film jenis ini mengajak penonton menikmati sensasi berfilsafat bukan melalui ajakan langsung, tetapi menyisipkannya secara rapi di dalam sebuah jalinan narasi. Judul-judul yang masuk dalam kategori ini di antaranya The Truman Show, Rashomon, dan yang terakhir saya tonton, Gattaca.

Isu yang diambil Gattaca adalah isu yang sudah lama menjadi perbincangan di dalam filsafat kesadaran dan filsafat moral, terutama setelah berkembangnya ilmu neurosains dan genetika. Diandaikan bahwa, ketika neurosains dan genetika menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari umat manusia, usia dan riwayat hidup seseorang sudah bisa diketahui sejak ia baru lahir. Hanya dengan sedikit sampel, seorang dokter bisa memvonis bayi yang baru lahir dengan penilaian genetis: apakah kelak si bayi akan menjadi orang yang berguna atau malah menjadi sampah masyarakat.

Pelan tapi pasti, sebuah diskriminasi jenis baru mulai terbentuk. Orang-orang yang memiliki nilai genetis yang baik akan diterima secara sosial, sedangkan orang-orang yang memiliki nilai genetis yang buruk (bahkan berbahaya) akan terjerembab ke dalam kasta paling bawah dalam masyarakat. Pada latar sosial semacam itulah film Gattaca mengambil tempat.

Meski pun hidup pada era kejayaan ilmu genetika, orang tua Vincent Freeman (Ethan Hawke) memilih untuk melahirkan anaknya secara alami, tanpa rekayasa genetis agar sang anak menjadi jenius atau semacamnya. Maka lahirlah Vincent yang ternyata "cacat" secara genetis: ia divonis oleh neurologist yang membantu kelahirannya akan tumbuh sebagai anak laki-laki yang lemah, sakit-sakitan, dan hanya akan hidup sampai umur 30 tahun.

Dengan vonis semacam itu, Vincent masuk ke dalam kategori sosial yang disebut sebagai orang-orang "invalid", yakni orang-orang yang diramalkan menjadi beban masyarakat akibat bawaan genetisnya. Pada hari pertamanya di dunia, Vincent Anton Freeman telah dikurung ke dalam kasta sosial yang dibentuk atas nama ilmu pengetahuan.

Perlakuan diskriminatif yang dialami Vincent bahkan sudah dimulai sejak di dalam rumah. Mengingat fisiknya yang lemah, orang tua Vincent cenderung memfavoritkan Anton, adik Vincent yang (setelah orang tuanya kapok dengan proses kelahiran alamiah) lahir melalui rekayasa genetis. Dalam hal pendidikan, Vincent tidak diterima masuk ke sekolah yang bagus dan mahal. Pihak sekolah tidak mau mengambil resiko tidak mendapatkan premi asuransi jika terjadi apa-apa terhadap Vincent. Ketika beranjak dewasa, Vincent menghadapi kenyataan bahwa orang-orang seperti dirinya hanya boleh bekerja sebagai tenaga kerja kasar.

Kelebihan Gattaca tentu saja terdapat pada kemampuannya memprovokasi pikiran penonton terhadap tema yang disodorkan dan, melaluinya, mengajak penonton merenungi situasi dan implikasi dari kemajuan teknologi yang dicapai umat manusia sejauh ini. Semua itu dilakukan melalui sebuah cerita yang dinarasikan secara runtut, lepas, dan tanpa beban pretensius yang dibuat-buat. Kita bahkan bisa menikmati film ini sebagai sebuah film drama, romance, dan thriller sekaligus.

Kekurangan film ini (dan film-film lain yang masuk kategori “film filsafat tidak langsung”) adalah kemudahannya untuk terjebak menjadi sebuah cerita yang personal. Provokasi yang disulut pada awal film akan tertimbun segala tetek bengek sub-plot yang bukan bagian tema besar film itu sendiri. Pada Gattaca kita bisa lihat bahwa pada akhirnya fokus cerita lebih berkonsentrasi pada bagaimana upaya Vincent mencapai cita-citanya menjadi astronot, dan juga kisah percintaannya dengan Irene (Uma Thurman), rekan kerjanya sesama calon astronot.

Di atas semua itu, Gattaca adalah sebuah fiksi ilmiah yang sangat layak untuk ditonton. Statusnya sebagai sebuah film fiksi ilmiah menjadi semakin menarik karena, berbeda dengan fiksi ilmiah Hollywood pada umumnya, tema yang diambil sangat aktual. Setidaknya, film ini bisa menjadi sebuah insight bagi para penonton bahwa terkadang perkembangan ilmu pengetahuan dan tingkat kesejahteraan manusia bisa berjalan tidak beriringan.

*Kategori ini adalah kategori yang longgar. Keduanya saya ambil dari dua titik yang paling ekstrem. Tentu saja ada film-film yang tendensi filosofisnya sangat jelas, namun memiliki cerita yang menopang tendensi tersebut. Contoh yang paling anyar adalah film komedinya Joel Coen, A Serious Man (2009) dan drama psikologis Synecdoche, New York (Charlie Kaufman, 2008). Kategori ini saya buat agar memudahkan pembagian. Lagi pula pada dasarnya setiap film bisa difilsafatkan asal kita rela bersusah payah merefleksikannya lebih dalam.

Monday, 16 August 2010

The Last Airbender


2010
Paramount Pictures
Sutradara: M. Night Shyamalan
Pemain: Noah Ringer, Nicola Peltz, Jackson Rathbone, Dev Patel, Shaun Toub, Aasif Mandvi, Cliff Curtis
Penulis: M. Night Shyamalan
Sinematografer: Andrew Lesnie
Musik: James Newton Howard
Durasi: 103 menit
MPAA Rating: Rated PG for fantasy action violence
Nilai: -B

Ini jelas bukan tipe film yang kita harapkan dari seorang M. Night Shyamalan. Para penggemar film-film Shyamalan mungkin akan kecewa dengan apa yang disuguhkan dalam The Last Airbender. Tidak akan ada teror psikologis dan ending yang mengejutkan ala The Sixth Sense di sini. Alih-alih, anda akan disuguhkan sebuah cerita fantasi yang penuh warna-warni plus eksploitasi CGI yang megah. Tampak jelas melalui The Last Airbender Shyamalan ingin keluar dari zona nyamannya sendiri.

Tapi perubahan adalah sesuatu yang sah, apalagi di industri perfilman. Siapa bilang seorang sutradara hanya boleh menyutradarai satu jenis film? Pilihan Shyamalan untuk menulis dan menyutradari The Last Airbender adalah hak prerogatif milik Shyamalan sendiri, dan saya menghormati pilihan tersebut.

Kisahnya sederhana, khas cerita fantasi untuk anak-anak. Syahdan, dunia ini ditinggali oleh empat bangsa besar: bangsa api, air, tanah, dan udara. Keempat bangsa ini hidup berdampingan secara damai selama bertahun-tahun berkat sosok seorang Avatar yang ditahbiskan mampu menjaga keseimbangan alam semesta. Normalnya, Avatar akan terus muncul dalam siklus waktu satu abad. Jika seorang Avatar wafat, tak lama kemudian akan muncul sosok Avatar yang baru. Hingga pada suatu saat sosok Avatar ini tidak muncul-muncul lagi. Keseimbangan alam pun rusak. Bangsa Api memulai ekspansi kolonial dan menjajah bangsa lain.

Di dalam masa perang seperti itu, dua orang kakak beradik bernama Sokka dan Katara secara tidak sengaja menemukan seorang anak kecil yang terperangkap di dalam es ketika pergi berburu. Anak kecil itulah sosok Avatar yang ditunggu-tunggu. Cerita kemudian berfokus pada petualangan sang Avatar bersama dua orang sahabat barunya itu mengembalikan keseimbangan alam semesta dan merestorasi kedamaian yang sempat hilang.

The Last Airbender memiliki semua hal yang semestinya dimiliki oleh setiap cerita fantasi yang baik: dunia alternatif, binatang-binatang fantastis, dan peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Shyamalan menulis sendiri skenario film ini, mengadaptasi dari serial kartun populer milik Nickelodeon. Tidak ada yang baru, sebetulnya. Shyamalan hanya merangkum bagian-bagian penting dari serial tersebut dan memadatkannya ke dalam rentang durasi 100 menit.

Hal yang membuat film ini patut ditonton adalah visualisasinya. Film ini benar-benar akan memanjakan mata anda. Efek visualnya betul-betul enak untuk dilihat. Perhatikan bagaimana para pengendali api dan air itu saling bertempur satu sama lain. Lihat juga koreografinya. Film ini menghibur karena membuat kita betah untuk berlama-lama mengagumi semua keindahan visual tersebut.
Saya juga bersyukur dengan pilihan Shyamalan untuk mengakhiri film ini dengan skala yang besar. Perang di akhir film ini benar-benar kolosal, dan hal tersebut benar-benar di luar dugaan saya. Seandainya saja film ini diakhiri dengan skala yang lebih kecil, The Last Airbender akan menjadi film yang datar, bahkan jelek.

Dan sebagaimana film-film yang terlalu mengandalkan teknologi visual yang canggih, The Last Airbender memiliki skenario yang lemah. Mungkin kisah Aang si avatar ini memang lebih cocok disuguhkan dalam format serial televisi. Rentang waktu 100 menit tidak akan cukup membuat penonton terpukau terhadap detail-detail sejarah para pengendali elemen alam semesta itu. Belum lagi jika kita mempertimbangkan kedalaman karakter dan emosi penonton terhadap kisah yang dibangun. Setidaknya perlu beberapa episode untuk hal tersebut. Dan kita semua tahu Shyamalan tidak punya waktu sebanyak itu.

Mungkin saja saya yang salah. Mungkin memang Shyamalan tidak ingin asyik berlama-lama dalam proses naratif yang dalam. Mungkin ia sadar target pasar film ini pun mungkin tidak peduli dengan tetek bengek semacam itu. Akhirnya saya pun menikmati film ini sebagaimana film ini sepatutnya diapresiasi: sebuah film musim panas yang seru dan indah secara visual, namun akan segera kita lupakan begitu muncul film lain yang lebih berwarna-warni.